Home » Saham » 3 Contoh Menghitung Nilai Intrinsik Saham

3 Contoh Menghitung Nilai Intrinsik Saham

Untuk menentukan nilai saham dapat ditentukan dengan tiga jenis metode, diantaranya yaitu: nilai buku, nilai pasar, dan ditentukan oleh nilai intrinsik saham.

Nilai buku merupakan nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan. Nilai pasar adalah nilai saham di pasar. Dan nilai intrinsik yaitu nilai saham yang sebenarnya.

Mengetahui nilai intrinsik saham sangat penting bagi para investor untuk dipertimbangkan ketika berinvestasi.

Selain berguna ketika memilih perusahaan, nilai intrinsik saham juga berguna ketika melakukan pembelian saham atau investasi lainnya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai apa itu nilai intrinsik saham, apa saja kegunaannya, bagaimana cara menghitungnya, dan lain sebagainya, berikut penjelasan mengenai nilai intrinsik saham.

Apa yang dimaksud dengan Nilai Intrinsik Saham?

Nilai intrinsik saham merupakan estimasi atau perkiraan nilai saham yang sebenarnya atau sesungguhnya berdasarkan data pengembalian dan data resiko.

Juga nilai intrinsik ditentukan berdasarkan pada tanggapan para investor dan masyarakat umum mengenai nilai aset pada perusahaan, opsi, saham, maupun real estate.

Nilai intrinsik saham tidak hanya memperhitungkan aset yang terlihat atau ekuitas saham saja, namun juga memperhitungkan aset yang tidak terlihat seperti nama besar perusahaan, prospek, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, cara menghitung nilai intrinsik saham tergolong sulit karena harus menyatukan berbagai pendapat mengenai nilai suatu saham.

Maka dari itu, nilai intrinsik saham merupakan nilai subjektif dimana nilainya diukur tergantung dari perspektif atau sudut pandang mana nilai saham tersebut dihitung.

Tidak ada nilai intrinsik yang tepat, artinya ini tergantung dari sudut pandang mana seseorang menghitung nilai  tersebut.

Yang biasa diperhitungkan yaitu prospek, ekuitas, nama besar perusahaan, kekuatan produk dan pelayanan, dan lainnya.

Menurut Chairman Berkshire Hathaway, Warren Buffett, berinvestasi pada perusahaan yang sangat bagus lebih baik dibandingkan dengan berinvestasi pada perusahaan yang biasa-biasa saja.

Meskipun harganya lebih tinggi, sudah tentu kualitas produknya pun berkualitas tinggi pula.

Apa Perbedaan Nilai Intrinsik Saham dengan Nilai Nominal Saham?

Nilai saham terbagi menjadi empat konsep diantaranya yaitu nilai nominal, nilai buku, nilai pasar, dan nilai intrinsik.

Nilai saham memiliki sifat yang luas dimana hal ini berhubungan dengan penilaian masyarakat umum terhadap perusahaan tersebut.

Nilai saham semakin tinggi jika perusahaan tersebut dianggap menguntungkan bagi masyarakat seperti dalam hal produk maupun pelayanan perusahaan.

Dan untuk mengetahui nilai saham tersebut dapat ditentukan dengan konsep nilai nominal dan nilai intrinsik saham.

Berikut beberapa perbedaan nilai intrinsik saham dengan nilai nominal saham:

  1. Berdasarkan pengertiannya, intrinsik saham merupakan nilai saham sesungguhnya, sedangkan nilai nominal saham merupakan nilai setiap saham sesuai dengan hukum.
  2. Nilai nominal saham ditentukan oleh nilai per lembar saham dari perusahaan, sedangkan nilai intrinsik ditentukan oleh nilai perusahaan seperti keuntungan, resiko, dan penilaian masyarakat umum terhadap perusahaan tersebut.
  3. Nilai nominal saham tidak memiliki hubungan dengan kondisi keuangan perusahaan. Berbeda halnya dengan nilai intrinsik yang sangat erat kaitannya dengan kondisi keuangan perusahaan.

Mengapa Perlu Melakukan Nilai Intrinsik Saham?

Tujuan dari berinvestasi yaitu untuk mencari saham yang nilainya kurang dari nilai intrinsiknya.

Dengan melakukan nilai intrinsik saham maka akan diketahui apakah nilai intrinsik suatu perusahaan lebih tinggi atau lebih rendah dari pasar.

Jadi dengan mengetahuinya suatu perusahaan maka seorang investor dapat menentukan apakah saham tersebut layak untuk dibeli atau tidak.

Apakah saham tersebut menguntungkan atau tidak, sedang diskon atau tidak, dapat terlihat setelah melakukan nilai intrinsik saham.

Sehingga dengan membeli saham pada saat harga diskon, para investor dapat membatasi atau bahkan menghindari sejumlah kerugian yang akan dialami.

Kerugian bisa dihindari jika suatu saat saham tersebut nilainya berkurang dari perkiraan di awal.

Jurnal Nilai Intrinsik Saham

Dari sudut pandang para investor, saham yang dibeli merupakan aset keuangan yang bertujuan untuk dijual kembali dalam jangka pendek.

Saham dicatat dengan harga beli ketika saat perolehan. Kemudian biaya transaksi dibebankan pada periode terjadinya perolehan.

Sebagai contoh, pada tanggal 27 November 2020 PT. Neesa Tahera 27 membeli saham biasa yang diterbitkan oleh tiga perseroan terbuka.

Harga Beli
PT. Fadhly Aziz Kaixa (PT FAK)Rp. 470.000.000
PT. Faiza Annadzeera Syifa (PT FAS)Rp. 325.000.000
PT. Haider Sultan Mirza (PT HSM) Rp. 275.000.000

Rp. 1.070.000.000

 

PT Neesa Tahera 27 memiliki rencana untuk menjual kembali aset-aset keuangan tersebut dalam jangka pendek. Maka, jurnal investasi saham sebagai berikut:

27 Nov 2020Investasi Saham – Diperdagangkan1.070.000.000
Kas1.070.000.000

 

Pada Debit aset berupa Investasi Saham – Diperdagangkan bertambah, begitu juga dengan Kas jumlah yang dicantumkan sama besar dikredit atau berkurang.

Jumlah yang didebit belum termasuk biaya transaksi yang terjadi pada saat perolehan.

Berikut biaya transaksi yang timbul ketika perolehan saham:

  1. Komisi dan imbalan (fee)
  2. Perantara efek dan dealer
  3. Konsultan
  4. Pungutan wajib
  5. Pajak dan bea

Untuk nilai intrinsik saham pada investasi, biaya-biaya di atas dibebankan melalui laba-rugi pada periode terjadi perolehan.

PT HSM membayar dividen sebesar Rp. 3.700.000 pada tanggal 26 Desember 2020 kepada PT Neesa Tahera 27. Maka, jurnal penerimaan dividennya adalah sebagai berikut:

26 Des 2020Kas3.700.000
Penghasilan Dividen3.700.000

 

Untuk portofolio investasi saham PT Neesa Tahera 27 pada tanggal 31 Desember 2020 memiliki nilai buku dan nilai intrinsik saham sebagai berikut:

Harga Beli.  Nilai IntrinsikKeuntungan/Kerugian (Tidak Direalisasi)
PT FAK.Rp. 470.000.000.   Rp. 490.000.000.   Rp. 20.000.000
PT FASRp. 325.000.000.   Rp. 350.000.000.Rp. 25.000.000
PT HSM Rp. 275.000.000.Rp. 290.000.000.Rp. 15.000.000
Rp. 1.070.000.000 Rp. 1.130.000.000Rp. 60.000.000

 

Maka diketahui nilai buku investasi saham berjumlah Rp. 1.070.000.000, sedangkan nilai intrinsik per 31 Desember 2020 adalah Rp. 1.130.000.000.

Dengan demikian PT Neesa Tahera 27 memiliki keuntungan sebesar Rp. 60.000.000. Namun belum bisa direalisasikan karena ini hanya sebagai laporan posisi keuangan saja.

Jurnal penyesuaian diperlukan sebagai laporan dengan penyajian sebagai berikut:

31 Des 2020Keuntungan Tidak Direalisasi60.000.000
Penyesuaian Nilai Intrinsik60.000.000

 

Jika PT Neesa Tahera 27 ingin mengambil keuntungan tersebut, maka PT Neesa Tahera 27 harus menjual aset tersebut terlebih dahulu.

Misalnya, pada tanggal 27 Januari 2021 PT Neesa Tahera 27 menjual seluruh saham PT HSM. Kas bersih yang diterima sebesar Rp. 297.500.000.

Jurnal penjualan investasi sahamnya sebagai berikut:

27 Jan 2021Kas297.500.000
Investasi Saham – Diperdagangkan275.000.000
Keuntungan Penjualan Investasi Saham22.500.000

 

Maka keuntungan yang didapat bersih sebesar Rp. 22.500.000

Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham dengan Metode Relatif

Metode nilai relatif atau metode relatif merupakan metode yang digunakan untuk menentukan nilai aset yang mempertimbangkan nilai aset serupa.

Metode penilaian yang digunakan untuk mengukur nilai relatif saham yaitu rasio harga terhadap pendapatan (P/E).

Nilai relatif berbeda halnya dengan nilai absolut dimana nilai absolut hanya melihat nilai intrinsik aset saja dan tidak membanding-bandingkan dengan aset-aset yang lainnya.

Keunggulan dari metode relatif bagi investor dan analis yaitu sebagai metode untuk mencari perbedaan dengan membandingkan satu aset dengan aset lainnya.

Sehingga dapat ditentukan aset mana yang terbaik dari seluruh investasi potensial.

Namun kelemahannya yaitu memaksa para investor untuk memilih yang terbaik dari yang biasa-biasa saja atau bahkan dari yang terburuk.

Para investor terpaksa memilih daripada harus pergi mencari di tempat yang lain.

Sebelum memutuskan perusahaan mana yang dipilih untuk dijadikan sebagai tempat berinvestasi, para investor biasanya akan mengecek laporan keuangan perusahaan pesaing sebagai perbandingan.

Yang para investor cek biasanya seperti komentar manajemen, catatan kaki, dan laporan keuangan atau data ekonomi perusahaan tersebut.

Langkah-langkah metode relatif dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi aset dan perusahaan yang tentunya sebanding dengan aset yang akan dibeli. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Melihat nilai pasar perusahaan apakah harga saham yang dipresentasikan sebanding dengan waktu tertentu
  2. Melihat angka penjualan dengan memperhatikan kapitalis pasar dan pendapatan
  3. Membandingkan kelipatan harga seperti rasio P/E atau rasio harga terhadap seluruh perusahaan sejenis. Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah perusahaan atau aset tersebut layak atau tidak untuk dijadikan tempat berinvestasi.

Lalu bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham dengan metode relatif? Berikut penjelasannya.

Rasio P/E merupakan alat ukur yang digunakan untuk menentukan apakah saham atau aset tersebut termasuk layak atau tidak untuk dibeli. Rumus PER yaitu perbandingan harga saham dengan Earnings per Share (EPS).

Earning per Share atau laba bersih per lembar saham dapat dihitung dengan cara membagi Laba Bersih dengan Jumlah Lembar Saham.

Earning per Share = Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar

Kegunaan dari rasio PER yaitu untuk melihat apakah saham yang akan dibeli undervalued atau overvalued. Namun PER ini hanya fokus pada laba bersih yang dicatatkan pada income statement.

Maka rumus PER adalah: Price to Earnings Ratio = Harga Saham / Earnings per Share

Berikut ini contoh perhitungan untuk menghitung Price to Earnings Ratio (PER) agar dapat memudahkan para investor dalam menghitung nilai intrinsik saham dengan metode relatif.

  • Bandingkan dengan Laba Bersih per Lembar Saham

Diketahui perusahaan XYZ mencatat kinerja seperti berikut ini:

Laba Bersih: Rp. 50 Milyar

Jumlah Saham Beredar: 500 Juta Lembar

Maka Earnings per Share adalah:

= Rp. 50 Milyar / 500 Juta Lembar

= Rp. 100 per Lembar Saham

*Harga saham: Rp. 1.000,- per lembar saham

Maka didapat PER = 1000 / 100 = 10x

Artinya dibutuhkan 10 tahun untuk bisa balik modal.

  • Bandingkan dengan perusahaan lain yang sektornya sama atau sejenis

Setelah mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk balik modal dengan menggunakan perbandingan PER di atas, langkah selanjutnya yaitu menentukan value atau nilai perusahan tersebut dengan membandingkannya dengan perusahaan lain.

Berikut beberapa perusahaan yang sejenis:

Kode Ticker SahamPrice to Earnings Ratio
PT ABC46,65x
PT DEF25,42x
PT GHI28,73x
PT JKL27,11x
AVERAGE31,97x

 

Dapat dilihat bahwa rata-rata PER-nya yaitu 31,97x. Sedangkan di atas ada perusahaan yang memiliki rasio PER di atas rata-rata, yaitu 46,65x.

Angka-angka tersebut dapat menjadi acuan atau patokan bagi para investor untuk menentukan apakah perusahaan yang akan dijadikan tempat berinvestasi layak dibeli atau tidak.

  • Bandingkan dengan Historical PER Sebelumnya

PER juga dapat dilihat dari Historical PER dari perusahaan tersebut. Jika PER saat ini lebih rendah dari sebelumnya, maka perkiraannya yaitu harga saat ini cukup murah sehingga dapat berbalik arah ke PER yang tinggi sebelumnya.

Namun tetap waspada terhadap kinerja perusahaannya juga, bukan hanya pada rasio saja.

Menggunakan metode relatif atau rasio P/E memang tergolong cepat dan efisien dalam menentukan intrinsik saham.

Namun kekurangannya yaitu bisa saja perusahaan tersebut memanipulasi data keuangan atau pendapatan sehingga merugikan para investor.

Disinilah seorang investor harus jeli dan paham benar sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Kalkulator Nilai Intrinsik Saham

Untuk memudahkan para investor dalam menentukan nilai intrinsik saham, maka diperlukan semacam alat atau kalkulator.

Sehingga para investor dengan praktis dapat menghitung nilai intrinsik sebuah perusahaan yang akan dijadikan tempat berinvestasi.

Alat atau kalkulator ini dibuat sangat praktis dimana para investor hanya memasukkan angka-angkanya saja. Setelah itu akan diketahui hasil dari nilai tersebut.

Untuk mendapatkan kalkulator tersebut, saat ini bisa dengan mudah didapatkan dengan melakukan pencarian di internet tanpa harus bersusah payah.

Namun sebelum menggunakan kalkulator tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Nilai intrinsik saham merupakan nilai yang subjektif, ini berarti hasil perhitungannya pasti berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini tergantung dari perkiraan dan sudut pandang masing-masing. Jadi jika ditemukan hasil sebesar 1500, belum tentu angka tersebut sudah pasti 1500. Bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah, dengan kata lain disclaimer in on.
  2. Untuk dapat dilakukan perhitungan, tidak semua saham dapat dihitung. Hal ini karena ada syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk dilakukan perhitungan tersebut. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan untuk dapat dilakukan perhitungan nilai intrinsik saham diantaranya secara historis memiliki kinerja yang baik, tumbuh dalam jangka panjang dan stabil.
  3. Laporan keuangan harus dikonversikan terlebih dahulu ke dalam mata uang Rupiah, hal ini jika laporan keuangannya dalam mata uang US Dollar atau mata uang negara lainnya.
  4. Harus menggunakan data laporan keuangan tahun penuh, bukan kuartal.

Untuk memudahkan penggunaan kalkulator online, berikut cara menggunakan kalkulator nilai intrinsik saham:

  1. Pertama-tama isi Earnings per Share atau nilai laba bersih per lembar saham perusahaan tersebut, EPS sekitar 10 tahun.
  2. Kemudian isi Book Value per Share atau buku per lembar saham perusahaan tersebut.
  3. Selanjutnya isi Growth Rate atau perkiraan rata-rata pertumbuhan perusahaan tersebut
  4. Lalu, isi Discount Factor atau faktor diskon, sekitar 10 – 15 persen karena ini merupakan growth rate yang konservatif
  5. Klik Calculate Now
  6. Nilai intrinsik saham akan muncul

Demikian penjelasan mengenai nilai intrinsik saham, Warren Buffett mengatakan bahwa agar kita bersikap realistis dalam menghitungnya. Jika suatu perusahaan memiliki kinerja yang sangat bagus saat ini, belum tentu akan mencatat prestasi yang sama di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi rujukan yang tepat bagi para investor. Terimakasih.

Tinggalkan komentar